Hormon Cinta

Berbagai unsur kimia dalam tubuh manusia, ternyata berfungsi sebagai pembangkit perasaan bahagia, cinta dan penghilang stress. Untuk memicu produksi unsur kimia pembawa rasa bahagia ini, diperlukan elusan atau sentuhan mesra.

Penelitian para ahli kimia dan kedokteran, membuktikan elusan atau sentuhan mesra, membangkitkan perasaan bahagia, cinta dan menghilangkan stress. Yang bertanggung jawab untuk munculnya rasa bahagia atau cinta ini, adalah Oxytocin, yang merupakan rantai peptida dari sembilan asam amino.

Elusan atau sentuhan mesra, ternyata tidak hanya diperlukan untuk meningkatkan libido, namun juga untuk menghilangkan stress dan membangkitkan gairah kehidupan. Bayi-bayi yang kurang mendapat sentuhan atau elusan, biasanya berkembang kurang normal atau sering sakit. Cenderung tumbuh menjadi orang dewasa yang anti-sosial dan agresif.

Prof. Shelley Taylor, pakar psikologi dan peneliti dari Universitas California di Los Angeles – UCLA, menemukan pula kaitan hormon Oxytocin yang mempererat hubungan antara bayi dan ibunya. Ketika menyusui bayinya, dalam tubuh si ibu dan bayi diproduksi unsur pembawa bahagia, Oxytocin dalam jumlah besar.

Anti stress

Terutama pada wanita, keberadaan hormon Oxytocin ini amat menonjol. Sebetulnya, wanita dan pria sama-sama memproduksi molekul pemicu rasa bahagia ini. Namun, hormon lelaki Testosteron menghambat efek Oxytocin. Sebaliknya, hormon wanita Estrogen justru memicu efek Oxytocin. Kondisi inilah yang diduga menyebabkan wanita lebih tahan stress ketimbang laki-laki. Jika wanita mengalami stress, perilaku yang muncul adalah mencari teman untuk mencurahkan masalah.

Berbeda dengan laki-laki, jika menghadapi stress, mereka akan menghadapinya atau menghindarinya. Akibatnya, lebih banyak laki-laki menderita penyakit darah tinggi, perilaku agresif sampai penyalah gunaan obat-obatan dan alkohol. Taylor menduga, efek Oxytocin yang berbeda pada laki-laki dan perempuan ini, merupakan hasil seleksi alam selama evolusi jutaan tahun. Amatlah tidak menguntungkan,jika wanita yang harus melahirkan anak untuk meneruskan keturunan, menghadapi langsung stress secara frontal atau menghindarinya. Strategi paling tepat adalah mengelolanya.

Reproduksi

Juga pada wanita, hormon Oxytocin ini berfungsi lebih jauh lagi, yakni menunjang serta memperlancar reproduksi. Baik pada saat hubungan seksual maupun ketika melahirkan dan menyusui. Ketika berlangsung proses melahirkan, hormon pembawa rasa bahagia dan hormon pengobar cinta ini, membantu membuka dan melemaskan otot pada rahim. Setelah itu produksi air susu ibu pun dipicu oleh

kehadiran hormon pembawa rasa bahagia ini. Dan tentu saja, keberadaan Oxytocin, mempererat pertalian antara ibu dan anaknya.

Begitu banyaknya fungsi Oxytocin itu pada wanita, menimbulkan pertanyaan, apa fungsinya pada pria? Mengapa justru hormon pembawa rasa bahagia itu, dihambat fungsinya oleh hormon lelaki? Jawabannya kembali pada proses evolusi jutaan tahun lalu. Laki-laki selalu dituntut untuk menghadapi tantangan dan stress secara frontal. Itulah sebabnya, tubuh mengembangkan mekanisme, yang menghambat fungsinya pada lelaki. Namun, hormon cinta dan pembangkit rasa bahagia itu, juga memiliki fungsi khusus pada lelaki. Yakni, memicu rangsangan dan sensasi kenikmatan ketika melakukan hubungan seksual.

Prof. Richard Ivell dari institut untuk penelitian hormon dan reproduksi di Universitas Hamburg. Ivell meyakini, molekul kimia semacam Oxytocin atau molekul sejenisnya Vasopressin, sejak awal munculnya kehidupan, sudah didesain sebagai unsur pesan dalam hubungan antar jenis kelamin dan kesetiaan. Oxytocin merupakan hormon yang secara evolusi berumur amat tua. Buktinya, hormon cinta dan pembawa rasa bahagia ini, masih dapat ditemukan pada binatang berderajat rendah seperti cacing.

Hadiah kenikmatan

Prof Ivell juga menyimpulkan, untuk hubungan antara manusia hormon ini memainkan peranan penting. Sebab, tanpa bangkitnya gairah atau sensasi, hubungan seksual untuk reproduksi, diduga akan menjadi tidak menarik dan tidak menyenangkan. Untuk membuktikan dugaannya, dilakukan percobaan yang cukup ekstrim. Sejumlah mahasiswa yang secara sukarela ikut serta dalam penelitian, disuruh melakukan mastrubasi. Setelah itu, kadar hormon Oxytocin di dalam darah mereka diukur. Hasilnya, terlihat peningkatan kadar hormon pembawa rasa bahagia ini, di dalam darah para relawan tsb. Percobaan dilanjutkan, dengan memberikan unsur pemblokir hormon Oxytocin kepada para relawan. Setelah melakukan masturbasi, para relawan mengatakan, mereka tidak lagi merasakan sensansi kenikmatan seperti sebelumnya. Artinya, hipotesa terbukti, bahwa hormon ini memang membangkitkan sensasi kenikmatan, memicu rasa bahagia serta berperan amat penting dalam hubungan seksual untuk reproduksi.

Bukan itu saja, pada wanita atau betina, hormon ini berfungsi memicu perasaan keibuan. Ujicoba pada tikus di laboratorium menunjukan, jika hormon ini disuntikan pada tikus betina yang tergolong masih muda dan belum matang untuk melakukan reproduksi, tikus bersangkutan mulai menunjukan perilaku keibuan. Mainan berupa anak tikus yang ditaruh di sarangnya, mulai diperlakukan sebagai anak betulan. Sementara ujicoba pada induk tikus, yang disuntik unsur pemblokir hormon Oxytocin, terlihat perilaku sebaliknya. Induk tikus bersangkutan, tidak

lagi merawat anak-anaknya dan bahkan kabur meninggalnya sarangnya.

Ternyata, manusia atau binatang, yang kadar Oxytocin dalam darahnya cukup tinggi, berperilaku lebih tenang, lebih santai, lebih sosial dan tidak selalu mencurigai yang lainnya. Dengan begitu, relasi antar individu menjadi lebih mudah, dan friksi dapat dihindarkan. Juga dengan hubungan antar individu yang lebih sosial, umur masing-masing individu terbukti dapat menjadi lebih panjang. Penelitian menunjukan, individu yang melakukan kontak sosial dan memilki banyak teman, turun risiko kematiannya secara tiba-tiba sebesar 60 persen.

6 Tanggapan

  1. Wah bAgUs bAnget.. Aku sangat suka setelah membacax makasih atas infox

    KC : ” makasih kembali….”

  2. bagus banget informasi
    minta sedikit buat blog saya ya
    makasih

    Penulis : ” Silahkan aja dech.. sedot..”

  3. Gue suka nih yg gini-gini….haha

    goooodddddddd

    thnx buat infonya….tetap semangat buat para tukang gorengan

    hehe

    regards,

    Penulis : ” Ternyata punya hormon juga ya..? :D”

  4. wah..abank iki..gita msh kcil..
    jd gk tw yg nm’na hormon??

    tp ne web gk ad batasan umur’na kan..

    Penulis : ” iiiiihhh gita masih kecil ya… , tapi kok dah pengen sech…?” he..he.he..

  5. okty… klo gue di elus-elus loe tau gak rasana,,,wkwkwkwkwkw,,,

    kebanyak ngelus2 bisa bahaya ty,,,hehehehe

    Penulis : “ngelus apa tur..? .he..he..he..

  6. u punya ide bikin web ini dari sapa

    wes to TOP DEHHHH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: