Seorang Nenek Ditemukan Duduk Mengambang di Laut

sedih

Jum’at 08/05/2009 Banyuwangi – Warga Dusun Grajagan Pantai Desa Grajagan Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, dikejutkan dengan penemuan sesosok nenek misterius di tengah laut. Nenek misterius tersebut ditemukan duduk dengan posisi mengambang di atas permukaan air laut.

Nenek yang belakangan diketahui bernama Supiah (65), asal Dusun Selorejo Desa Temurejo Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi itu ditemukan secara tak sengaja oleh serombongan nelayan yang sedang memancing di laut Grajagan, tepatnya Laut Pelawangan.

Kali pertama ditemukan, nenek misterius itu berada di permukaan air laut dalam posisi duduk, Kamis malam (7/5/2009), sekitar pukul 23.00 WIB atau bertepatan pada malam Jumat Legi.

Anehnya lagi, tubuh maupun pakaian yang dikenakan nenek tersebut tak basah oleh air laut. Saat ditolong oleh para nelayan, nenek tersebut justru menolak untuk dinaikkan ke atas kapal jukung.

Bahkan saat berhasil dirayu naik ke atas kapal, nenek itu justru memaksa para nelayan untuk mengantarnya ke arah laut lepas seakan mengejar sesuatu.

“Saya kira batang kayu, saya baru tahu pas nenek itu batuk-batuk membentur perahu saya. Teman-teman saya ketakutan, pas saya lihat ternyata nenek itu duduk di atas permukaan air terombang-ambing arus laut,” jelas Supariyanto (40), nelayan Grajagan yang malam itu melihat langsung kesaktian nenek Supiah. Dia sangat heran, sebab nenek tersebut seperti pada film-film fiksi selama ini.

Nenek Supiah yang sempat diamankan ke rumah Supariyanto itu kemudian disusul oleh keluarganya, Jumat (8/5/2009). Selain itu polisi juga ikut mengawalnya, sebab penemuan nenek sakti itu mengundang warga berduyun-duyun. Saat ditanya wartawan, nenek Supiah hanya diam. “Saya cari anak saya,” katanya singkat.

temenroom1

Supiah Mengaku Cari 2 Anaknya yang Berbadan Ular

Nenek Supiah (65) benar-benar misterius. Dia yang ditemukan nelayan sedang duduk mengambang di tengah laut mengaku sedang mencari dua anaknya yang hilang. Yang mengejutkan lagi, anaknya itu disebutnya seorang laki-laki dan seorang perempuan, yang berwujud ular berkepala manusia.

“Katanya cari anaknya yang hilang terbawa laut, anaknya itu disebutnya berkepala manusia berbadan ular, itupun dijawabnya setelah saya tanya berkali-kali dengan sedikit rayuan,” ungkap Supariyanto menirukan jawaban sang nenek sesaat setelah dibawa pulang nelayan dari laut.

Supariyanto adalah salah seorang nelayan yang sempat menyaksikan penemuan sang nenek di tengah laut Grajagan, Banyuwangi, Kamis malam (7/5/2009).

Nenek Supiah memang tak banyak bicara. Dia lebih sering membisu saat ditanya ketika diamankan di rumah Supariyanto, Grajagan, Jumat (8/5/2009). Tak mudah berkomunikasi dengan nenek yang diyakini warga memiliki kekuatan magis tingkat tinggi tersebut.

Tatapan matanya yang tajam seakan menyiratkan kekuatan luar biasa yang terpendam di dalam dirinya. Bahasa tubuhnya juga menunjukkan kegelisahan, seakan mencari sesuatu yang lama dicarinya.

Nenek Supiah juga enggan menjelaskan ilmu yang digunakan hingga dia bisa duduk di atas permukaan air laut Grajagan, atau tepatnya perairan Pelawangan. Dia tetap membisu meski wartawan memberondong pertanyaan tentang prilakunya itu.

Supiah (65) yang berasal dari Dusun Selorejo Desa Temurejo Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi itu akhirnya dijemput keluarganya. Pihak keluarga juga enggan bicara banyak soal kejadian yang membuat geger itu.

Supiah ‘Kerjai’ Kamera Wartawan

Nenek Supiah kembali menunjukkan ‘kesaktiannya’. Setelah dievakuasi dari tengah laut, wartawan yang ingin mengabadikan gambarnya dibuat bingung. Entah mengapa, satu persatu power kamera wartawan yang meliput mendadak mati secara bergantian. Bahkan ada pula yang hasil jepretannya berwarna gelap.

Bukan hanya wartawan, warga yang berusaha mengabadikan gambar melalui ponselnya juga mengalami hal serupa. “Mbah…mbah saya ambil gambarnya ya,” kata seorang wartawan. Si nenek itu mengawasi para wartawan dengan tatapan tajam.

“Loh kok malah mati lagi handphonku, kok bisa sih,” teriak salah seorang wanita yang saat itu berebut mengabadikan gambar Nenek Supiah di rumah Supariyanto (40), seoang nelayan Grajagan yang melihat langsung kesaktian pada nenek misterius itu, Jumat (8/5/2009).

Namun setelah sang nenek di bujuk rayu, akhirnya gambar yang diharapkan berhasil didapatkan. “Ini kebetulan atau gimana sih kok mati sendiri,” kata seorang wartawan dengan keheran-heranan. Padahal dia mengaku sudah mengisi baterainya penuh sebelum berangkat liputan.

Nenek yang berasal Dusun Selorejo Desa Temurejo Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi itu ditemukan secara tak sengaja oleh serombongan nelayan yang sedang memancing di laut Grajagan, tepatnya Laut Pelawangan, Kamis malam (7/5/2009).

Kali pertama ditemukan, nenek misterius itu berada di permukaan air laut dalam posisi duduk. Para nelayan itu akhirnya mengevakuasi ke darat meski sang nenek sempat menolak.

Meski banyak diam, nenek yang terlihat linglung itu sempat menyampaikan alasannya ke laut kepada Supariyanto. Menurutnya dia sedang mencari dua anaknya, lelaki dan perempuan yang wujudnya membuat yang mendengarnya tercengan. Dua anaknya itu, bertubuh ular namun berkepala manusia.

Supiah Ternyata Masuk Daftar Orang Hilang

Nenek sakti, Supiah (65) warga Dusun selorejo Desa Temurejo, Kecamatan Bangorejo, yang ditemukan duduk di atas permukaan laut oleh Nelayan Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Kamis (7/5/2009) malam sempat masuk daftar pencarian orang hilang.

Pihak keluarga Nenek Supiah, sempat melapor ke Polsek Purwoharjo beberapa saat nenek itu menghilang dari rumahnya. Dalam laporan yang dibuat pihak keluarga, nenek Supiah dikabarkan hilang dari rumahnya sejak Kamis (7/5/2009) sore kemarin.

Lantaran tempat tinggal nenek Supiah masuk wilayah Kecamatan Bangorejo, rencananya laporan itu akan dilimpahkan ke Polsek Bangorejo untuk ditindaklanjuti.

“Belum sempat kami bergerak, ternyata justru kami dapat laporan dari nelayan pagi tadi jika si nenek ditemukan duduk ditengah laut tadi malam,” jelas Kapolsek Purwoharjo, AKP Tri Joko saat dihubungi detiksurabaya.com, Jumat (8/5/2009).

Dengan ditemukannya Nenek Supiah, nama nenek sakti tersebut akhirnya dihapus dari daftar orang hilang. Untuk memastikan ciri-ciri dan identitasnya, polisi melibatkan pihak keluarga saat proses penjemputan di rumah Supariyanto, rumah nelayan yang menemukan si nenek misterius tersebut.

Sayangnya, polisi mengaku tidak sempat meminta keterangan lebih lanjut terkait ‘ulah’ nenek sakti itu. Hanya nama dan alamat yang bisa dirilis oleh pihak Polsek Purwoharjo.

“Kita hanya melayani saja mas, identitas sesuai apa tidak dengan laporan keluarga dan beberapa saksi ya sudah kita kembalikan lagi ke keluarganya,” jelas Tri Joko.

Supiah Mengaku ke Tengah Laut Diajak Ombak

Nenek Supiah (65), warga Dusun Selorejo Desa Temurejo Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi, yang ditemukan duduk mengambang di atas permukaan air laut Grajagan, Kamis (7/5/2009) malam akhirnya membuka mulut.

Untuk mendapatkan kisahnya, si nenek sakti tak selalu menjawab sesuai dengan pertanyaan yang diberikan. Bahkan harus berungkali mengajukan pertanyaan yang sama dengan gaya bahasa berbeda.

Supiah mengaku, jika dirinya keluar dari rumah sejak Kamis siang sekitar pukul 12.00 WIB. Sejak bangun tidur pagi hari, dirinya ingin pergi ke laut lantaran kangen masa lalu bersama mantan suami yang menjadi nelayan dan dua anaknya.

“Mbiyen aku sering njaring iwak karo arek-arek, aku cuma butuh nyemplung ke laut, kangen tok (Dulu saya sering menjaring ikan bersama anak-anak, saya cuma ingin mencebur ke laut, kangen itu saja,” jelas Nenek Supiah lirih dengan nada terpotong-potong, sambil berdiri melihat halaman rumahnya saat ditemui detiksurabaya.com di rumahnya, Sabtu (9/5/2009) siang.

Meski jarak antara rumahnya dan Pantai Grajagan Desa Grajagan Kecamatan Purwoharjo sekitar 12 Km, namun Nenek Supiah menempuhnya dengan berjalan kaki. Selama perjalanan melalui jalan raya, si nenek tak lupa mengumpulkan ranting kayu yang diambil dari rimbunnya hutan jati yang ada di sisi jalan.

Sesampainya di Pantai Grajagan, nenek Supiah beristirahat. Agar ‘aksinya’ tidak diketahui warga, dia mengaku menunggu waktu hingga beranjak gelap. Dengan tenang dan santai, nenek sakti itu mulai masuk ke air laut.

“Aku ngenteni wong-wong ben podo sholat maghrib, aku terus mlaku nengah nek tengah segoro, (Saya tunggu orang-orang biar sholat magrib, saya lantas jalan menuju ke tengah lautan),” jelasnya dengan nada sepotong-potong.

Dari percakapan nenek Supiah yang dianggap stres warga kampungnya memberikan pengakuan mengejutkan. Nenek Supiah mengaku bisa ke tengah laut pelawangan, laut yang dikenal angker oleh nelayan setempat, dengan cara diantar oleh air laut. Dia pun juga merasa heran dengan apa yang dialaminya.

“Aku digowo mlaku-mlaku karo banyu segoro, kadang ngiwo kadang nengen maneh. Kadang yo nengah, (Saya dibawa jalan-jalan sama air laut, kadang ke samping kanan kadang ke samping kiri, kadang ke tengah),” ungkap nenek Supiah kembali.

Entah mengapa, tiba-tiba si nenek sakti beranjak dari sisi meja, tempatnya berdiri. Dan menuju kamarnya yang terbuat dari papan kayu. Dari dalam kamar tua itu, terdengar si nenek sakti berbicara sendiri seakan sedang berkomunikasi dengan seseorang.

Seperti diberitakan sebelumnya, warga Banyuwangi dihebohkan dengan penemuan sesosok nenek yang sedang duduk mengapung di tengah laut pelawangan, Grajagan. Nenek sakti yang diketahui bernama Supiah itu, ditemukan serombongan nelayan yang sedang memancing ikan sekitar pukul 23.00 WIB. Anehnya lagi, badan maupun pakaian yang digunakan tak basah oleh air laut.

Supiah ‘Marah’ Ditanya Ular Berkepala Manusia

Nenek sakti Supiah (65) yang ditemukan nelayan Grajagan duduk mengambang di atas permukaan air laut, enggan bercerita apa yang dimaksud manusia berbadan ular yang disebut sebagai anaknya.

Saat ditanya tentang dua anaknya, pandangan mata supiah tajam dan tak sepatah kata pun keluar dari mulut wanita yang memiliki 3 cucu tersebut. Sorot matanya tajam dan melotot. Dari raut wajahnya, Supiah sepertinya enggan menceritakan kedua anaknya yang berbadan ular, seperti pengakuan pertama kali ditemukan nelayan Grajagan.

Namun, Supiah seperti mengucap sesuatu yang tidak jelas dan suaranya terdengar samar. Dia hanya mengaku anaknya dulu bekerja di sawah dan ke laut.

“Anakku dulu itu kerjanya di sawah ya di laut. Panen padi, ya panen ikan,” jelas Nenek Supiah dalam bahasa Jawa kepada detiksurabaya.com saat ditemui di rumahnya, Sabtu (9/5/2009) siang.

Sementara adik kandung Supiah mengaku jika kakaknya memiliki dua anak perempuan. Masing-masing bernama Dewi dan Solikhah. Dewi sendiri kini tinggal di Maluku dan Solikhah bermukim di Papua.

“Keponakan saya dari Supiah dua orang, Dewi dan Sholikah. Semuanya sudah berkeluarga. Satunya di Maluku, satunya lagi di Papua,” jelas Saudah (32), adik kandung nenek Supiah saat mendampingi kakaknya.

Supiah dan kedua anaknya nyaris tidak pernah bertemu. Selama anaknya menikah, Supiah hanya bertemu sekali yakni sekitar 5 tahun lalu.

Supiah Pernah Diculik Gendruwo

Nenek sakti Supiah (65), yang ditemukan duduk mengambang di atas permukaan air laut Grajagan oleh nelayan, mengalami gangguan jiwa. Kondisi itu dialami setelah dirinya hilang dibawa makhluk halus, puluhan tahun silam.

Awalnya menurut pihak keluarga, nenek Supiah merupakan perempuan normal. Tak ada tanda-tanda keanehan apapun dalam diri nenek asal Dusun Selorejo Desa Temurejo Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi itu.

Kondisi kejiwaannya mulai terganggu kala dia ikut merantau suami ke Pulau Sumatera. Tak ada yang tahu tepatnya di kota apa. Hanya saja saat itu Supiah dan suaminya menjadi petani dengan membuka lahan layaknya seorang transmigran.

Namun setelah 4 bulan merantau, Supiah diantar pulang sang suami ke rumah lagi dalam kondisi stres berat. Stres itu diderita setelah Supiah sempat hilang selama 2 hari dibawa kabur oleh makhluk halus. Cerita tersebut didapat pihak keluarga dari mantan suami Supiah, kala itu.

“Cerita dari mendiang ibu saya, Supiah itu stres setelah hilang dua hari dibawa ole Gendruwo pas mencuci pakaian di sungai,” jelas Saudah menirukan ucapan almarhum ibunya saat ditemui detiksurabaya.com di rumahnya, Sabtu (9/5/2009) siang.

Selain itu, kondisi stres tersebut menjadi setelah Supiah ditinggal kawin lagi suaminya. Ke-2 anak hasil perkawinannya, Dewi dan Solikhah turut dibawa suami untuk merantau ke Maluku. Hingga akhirnya nyaris antara ibu dan kedua anaknya tesebut tak pernah bertemu lagi.

“Stresnya semakin menjadi saat ditinggal kawin lagi oleh suaminya, saat� itu anaknya juga dibawa,” jelas Saudah.

Anehnya, meski dianggap stres oleh keluarga dan lingkungannya, Supiah masih bisa mengenali satu per satu saudara, tetangga bahkan teman semasa sekolah rakyat (SR) dulu. Tak jarang pula dia berucap kangen dengan kedua buah hatinya.

Bahkan keseharian Supiah layaknya orang normal pada umumnya. Mulai cara berpakaian, menjaga kebersihan diri dan lingkungan hingga berkomunikasi dengan warga. Hanya saja, butuh kesabaran saat berbicara dengan nenek misterius ini. Sebab, terkadang nenek Supiah ngelantur dalam berbicara.

“Sebelum menghilang ke laut, Supiah pamitan ke saya mau cari kayu di hutan seperti biasanya. Memang sih dia berpesan juga kalau pulangnya agak malam. Eh tidak tahunya malah ke laut,” jelas Saudah yang mengaku tak pernah melihat keanehan selama merawat kakak tertuanya itu.

Paranormal Imbau Waspadai Datangnya Penyakit

Paranormal Banyuwangi memberi peringatan warga, khususnya nelayan Grajagan dan sekitarnya untuk waspada datangnya gangguan alam. Peringatan itu hasil penglihatan supranatural, dari tanda-tanda yang ditinggalkan nenek Supiah yang ditemukan duduk mengambang di atas permukaan air laut Grajagan, Kamis (7/5/2009) malam.

Menurut salah seorang paranormal asal Dusun Petahunan Desa Jajag Kecamatan Gambiran, Banyuwangi, Suratno (48), dalam waktu dekat kawasan pesisir selatan akan diterjang bencana kecil berupa wabah penyakit. Meski begitu, wabah penyakit itu tidak akan sampai menjadi petaka besar.

Untuk mengantisipasinya, nelayan setempat diminta melakukan selamatan apa yang dipesankan nenek Supiah. Yakni, selamatan jenang (bubur.red) grendul di hari Jumat Pon. Sebab, kawasan pesisir selatan Banyuwangi memiliki sejarah buruk di hari Jumat Pon tersebut. Di hari penanggalan Jawa, kawasan Grajagan dan sekitarnya dihempas bencana Tsunami.

“Dalam waktu dekat ini sepertinya akan datang serangan alam berupa penyakit, namun tidak sampai besar menjadi wabah. Tapi misterius, sebab itu segera diantisipasi,” jelas Suratno tanpa bermaksud membuat keresahan warga saat ditemui detiksurabaya.com di rumahnya, Sabtu (9/5/2009) siang.

Saat ditanya apakah penyakit itu virus flu babi? Setelah beberapa saat memejamkan matanya, paranormal yang kerap bertapa di Alas Purwo ini mengaku tidak ada kaitannya dengan virus mematikan tersebut.

Selain memberikan peringatan waspada, Suratno yang juga berprofesi sebagai pengrajin pisau ini, juga memberikan kabar baik bagi nelayan. Sebab, hasil laut para nelayan akan segera melimpah.

“Di sisi lain dari penglihatan saya, hasil tangkapan nelayan semakin bagus,” ungkap Suratno membeberkan hasil penerawangan melalui mata batinya.

Sementara Mbah Samsuri (35), rekan Suratno sesama Paranormal juga memberi peringatan yang sama. Menurutnya, alangkah lebih baik hari yang pernah terjadinya musibah besar kita peringati dengan selamatan dan berdoa.

“Terlepas dari pro kontra syirik atau apa, yang jelas momen dihari suka maupun duka lebih baik kita peringati dengan bersedekah dan berdoa,” jelas Mbah Samsuri, bijak, kala ditemui detiksurabaya.com di sebuah rumah makan Jalan Raya Yos Sudarso, Jajag.

Paranormal: Supiah Sakti Tapi Pura-pura Stres

Paranormal Banyuwangi mengaku meski sosok Supiah, nenek yang ditemukan duduk mengambang di atas permukaan air dianggap stres di lingkungan rumahnya, justru sosoknya menyamar untuk menutupi keampuhan yang dimilikinya.

Menurut salah seorang paranormal asal Dusun Petahunan Desa Jajag Kecamatan Gambiran, Suratno (48), orang-orang sakti memang kerap bersikap nyeleneh seperti itu. Biasanya, hal itu untuk menjauhkan diri dari sifat dan rasa takabur.

“Nenek Supiah tidak stres, biasanya orang ampuh seperti itu, nyeleneh dan menyamar, rendah hati,” jelas Suratno saat ditemui detiksurabaya.com di rumahnya, Sabtu (9/5/2009) siang.

Namun, lanjut Suratno, tak banyak yang bisa mengerti apa yang dimaksud penyamaran yang dilakukan Supiah. Dijelaskan oleh dia, sangat beruntung dan kebetulan bagi nelayan yang memergoki ‘aksi’ nenek Supiah kala duduk di atas permukaan laut Grajagan.

“Jarang-jarang ada orang yang bisa memergoki hal seperti itu, nelayan itu sungguh beruntung,” beber Suratno.

Sementara Saudah, adik kandung Supiah, yang rumahnya berdekatan mengaku tidak pernah melihat aktivitas aneh yang dilakukan kakak tertuanya tersebut. Kecuali, saat Supiah berbicara sendiri layaknya berkomunikasi dangan seseorang.

“Saya saja heran kok bisa duduk di atas laut, selama ini sikapnya tidak ada yang aneh kecuali kerap berbicara sendiri,” jelas Saudah saat ditemui detiksurabaya.com di tempat terpisah.

Nenek ‘Sakti’ Hanya Mau Pakai Pakaian Buatan Sendiri

Nenek Supiah (65), nenek misterius yang ditemukan duduk mengapung di permukaan laut Pelawangan, Grajagan, oleh nelayan setempat, ternyata mahir dalam membuat pakaian. Namun jangan bayangkan proses pembuatan pakaiannya, sama halnya dengan para penjahit pada umumnya.

Dalam membuat selembar baju, nenek Supiah hanya mengandalkan perlengkapan sederhana. Bahkan mungkin tak lazim dipergunakan oleh para penjahit profesional. Bayangkan saja, untuk memotong lembaran kain yang akan dibentuk menjadi baju, nenek tiga cucu tersebut menggunakan sabit dan parang.

“Motong kainnya pakai sabit, kadang pisau dan tak jarang juga pakai parang yang biasa dipakainya untuk cari kayu bakar,” jelas Muhaini, suami Saudah adik kandung Supiah menyakinkan, kala ditemui detisurabaya.com di rumahnya Dusun Seloejo, Banyuwangi, Minggu (10/5/2009).

Selain itu, kain yang dipilihnya bukan kain baru berkualitas standar. Melainkan kain atau pakaian yang hanyut terbawa arus sungai yang terletak tak jauh dari tempat tinggalnya di Dusun Selorejo Desa Temurejo Kecamatan Bangorejo.

Alat jahitnya pun hanya mengandalkan alat jahit manual, yakni berupa bilah mata jarum berukuran kecil, serta benang berwarna putih. Selama proses pembuatan, nenek aneh itu tak menggunakan alat ukur untuk mengetahui besar atau kecil, panjang atau pendek bentuk dari pakaian yang dibuatnya.

“Kain-kain itu khusus dicari dan diambil dari pakaian atau kain yang hanyut di sungai, barat rumah mas, dicucinya sampai bersih,” jelas Muhaini lagi sambil geleng-geleng kepala keheranan.

Meski tak diukur, dan bahkan memotongnya tidak memakai alat semestinya, anehnya baju hasil buatan nenek Supiah pas dengan postur tubunya. Lekuk lekuk baju juga terlihat pas, seakan baju hasil buatan seorang penjahit.

Entah apa alasan dari semua tingkah anehnya itu. Mungkin sebab itu juga, nenek yang dianggap stress oleh orang kebanyakan tersebut, tak mau mengenakan pakaian selain pakaian buatannya. Seperti saat diminta warga Grajagan untuk berganti pakaian, sesaat ditemukan warga duduk dipermukaan laut.

“Mbak Supiah itu tidak mau pakai pakaian yang bukan hasil karyanya, entah apa maksudnya kami pun tidak tahu,” jelas Saudah, adik kandung nenek Supiah kala mendampingi suaminya.

Sayangnya, nenek Supiah tak berkenan saat pakaian buatannya akan diambil gambarnya. Nenek misterius itu hanya mau menunjukan baju hasil karyanya, itupun setelah dirayu beberapa kali oleh Saudah, adik kandungnya.

Sesuai Pesan Supiah, Nelayan Grajagan akan Gelar Larung

Nelayan Grajagan Desa Grajagan Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, akan melakukan ritual larung sesaji jenang (bubur) grendul. Ritual itu dilakukan sesuai pesan nenek sakti Supiah (65) yang dipergoki duduk mengambang di atas permukaan laut pelawangan, Grajagan oleh nelayan.

Sesaat setelah ditemukan mengambang di atas laut dan dibawa ke rumah salah satu warga, Kamis (7/5/2009) malam lalu, Supiah sempat berpesan agar para nelayan menggelar selamatan jeneng grendul di hari Jumat Pon, Jumat (15/5/2009) mendatang.

Meski alasannya tidak jelas, namun nelayan Grajagan tahu jika hari itu merupakan hari bencana Tsunami menghancurkan kehidupan mereka beberapa tahun silam. Para nelayan sepakat akan menuruti pesan dari si nenek sakti tersebut. Warga setempat trauma dengan bencana yang pernah terjadi di kawasannya.

Terlebih saat Supiah ditemukan, bertepatan dengan Jumat legi, hari penanggalan Jawa yang dianggap keramat. Nelayan Grajagan mengakui jika sudah bertahun-tahun tidak pernah lagi memperingati lagi (Selamatan) di hari saat datangnya Tsunami, Jumat Pon. Kecuali hanya melakukan ritual petik laut yang dilakukan tiap tahun.

“Kita memang tidak pernah memperingati hari datangnya bencana itu, kecuali hanya petik laut,” jelas Supariyanto, nelayan Grajagan kala dihubungi detiksurabaya.com, Senin (11/5/2009).

Untuk itu, lanjut juragan ikan ini, tidak ada salahnya jika pesan nenek Supiah dianggap sebagai penggugah hati nurani nelayan, supaya mensyukuri apa yang sudah diberikan Tuhan melalui lautnya.

“Kita akan larung jenang grendul dan beberapa sesaji lainnya, setelah dilakukan selamatan dan doa bersama dulu,” tambah Supariyanto.

Warga Datangi Supiah Minta Nomor Togel

Sejak tersiar kabar jika Supiah (65) ditemukan nelayan Grajagan duduk mengambang di atas laut Grajagan, Banyuwangi, beberapa warga mulai terlihat mendatangi rumah si nenek sakti di Dusun Selorejo Desa Temurejo Kecamatan Bangorejo.

Mereka yang datang rata-rata para tetangga dusun atau tetangga sekitar. Mereka bersilaturrahmi atau menjenguk Supiah untuk memastikan kebenaran serta kondisi kesehatannya, setelah dikabarkan hilang.

Namun ada beberapa warga yang ternyata memiliki niat kurang ‘baik’. Seperti pengakuan pria berinisial GN, warga Dusun Plaosan, Desa Temurejo. Pemuda itu diam-diam berniat meminta nomer judi togel yang akan dibeli. Mudah ditebak, GN ingin menembus angka
yang akan keluar diundi togel minggu ini.

“Sampeyan mau apa mas, apa mau minta nomer togel juga seperti saya,” kata GN saat bertanya ke detiksurabaya.com, di halaman depan rumah nenek Supiah, Senin (11/5/2009).

Setelah dijelaskan, GN tersipu malu dan meminta maaf. Menurutnya, hanya dengan meminta petunjuk nenek Supiah saja dia yakin mendapat keuntungan dari membeli
togel. Sebab selama dia ‘menekuni’ judi togel nyaris tak pernah beruntung.

“Habis saya kalah terus mas, ini mumpung ada nenek Supiah,” jelas GN polos diiringi tawa kecil.

Namun harapan GN tak seindah pikirannya. Kala menemui nenek Supiah dia justru ‘dikerjai’. Pasalnya, meski berkali-kali meminta petunjuk Supiah, GN justru tak mendapatkan jawaban nomer togel yang dimintanya. Bahkan Supiah justru seakan menyarankan GN untuk membeli togel.

“Tuku ae 10 ewu, yo tukuo tah kok bingung (Beli saja 10 ribu, ya beli saja kok bingung),” saran Supiah tanpa memberi nomer togel yang diminta GN, dalam Bahasa Jawa.

Karena merasa tidak mendapat jawaban, akhirnya GN memilih untuk keluar dan duduk halaman depan rumah Supiah. GN masih berharap Supiah memberinya nomor
togel.

“Mungkin karena ada sampeyan jadi tidak mau, saya tunggu dulu ah,” canda GN berbisik sambil beranjak dari tempat duduknya.

Keluarga Khawatir Supiah ‘Dikawal’ Penunggu Laut Selatan

Keluarga Supiah (65), nenek ‘sakti’ asal Dusun Selorejo Desa Temurejo Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi, yang dipergoki nelayan sedang duduk mengambang di atas laut Pelawangan, Grajagan mengaku resah dan takut dengan perubahan di dalam diri nenek Supiah.

Keluarga Supiah, mengaku takut jika anggota keluarganya itu sudah disusupi makhluk halus. Sebab, sebelum ditemukan duduk di permukaan laut, nenek misterius itu tak menunjukkan keanehan yang menonjol. Hanya kebiasaan berbicara sendiri yang selama ini diketahui oleh keluarganya.

Kebiasaan itu juga dirasa sedikit mulai berubah. Sebab hal itu terlihat menjadi lebih sering dilakukan Supiah dibanding sebelumnya. Pihak keluarga Supiah juga merasa heran, bagaimana mungkin anggota keluarganya yang dianggap stres oleh orang kampung, bisa duduk mengapung di atas air laut. Mereka curiga jika di dalam tubuh Supiah sudah bercokol sesosok makhluk halus.

“Selama ini tidak pernah aneh-aneh, kami curiga jangan-jangan dia (Supiah) sudah disusupi penunggu laut Grajagan,” jelas Muhaini yang diiyakan istrinya, Saudah, adik kandung Supiah saat ditemui detiksurabaya.com, sebelum berangkat kerja, Selasa (12/5/2009) pagi.

Kecurigaan itu berdasarkan perubahan yang mulai terasa. Seperti intensitas kebiasaan berbicara sendiri yang meningkat, serta mata Supiah juga kerap diketahui melotot saat berbicara dengan orang lain. Dan juga niatan Supiah untuk kembali ke laut Grajagan seakan seperti rindu dengan rumahnya sendiri.

Meski menduga jika disusupi makhluk halus atau penunggu laut Selatan, namun pihak keluarga mengaku pasrah. Yang terpenting Supiah tidak berubah menjadi beringas atau berbahaya bagi lingkungannya. Supiah juga diketahui menjadi lebih sensitif jika diajak bicara terkait anaknya (Apalagi manusia berbadan ular yang diaku sebagai anaknya).

“Mungkin dia lagi kangen berat sama anaknya yang bernama Dewi dan Solikhah. Sebab sudah sekitar 7 tahun tidak ketemu,” jelas Saudah, sambil menunjukkan foto Solekhah, salah satu putri nenek Supiah yang ada di Papua dan sudah hilang kontak sejak pertemuan terakhir, 5 tahun silam.

Supiah Marah ‘Rumahnya’ Rusak Akibat Penambangan Emas

Supiah kembali membuat orang kembali terheran-heran. Nenek yang sebelumnya ditemukan duduk mengapung dipermukaan laut Pelawangan, Grajagan, Banyuwangi tiba-tiba menyatakan kemarahannya terhadap aktivitas penambangan emas yang sedang berlangsung di Gunung Tumpang Pitu, Banyuwangi.

Di kawasan Gunung Tumpang Pitu, saat ini memang terdapat dua aktivitas penambangan emas. Yakni eksplorasi emas oleh PT Indo Multi Niaga (IMN), serta penambangan emas tradisional di lembah Gunung Tumpang Pitu Kampung 56 Dusun Ringinagung Desa yang sudah distop aparat keamanan.

Lantas apa hubungannya, antara aktivitas penambangan emas dengan nenek Supiah? Selain mengaku mencari 2 manusia berbadan ular di laut selatan, yang disebutnya sebagai anaknya, Supiah mengaku jika dirinya berasal dari kawasan Gunung Tumpang Pitu, yang diperkirakan mengandung emas puluhan ribu ton di dalam tanahnya.

Padahal, Supiah diketahui lahir dan besar di Dusun Selorejo Desa Temurejo Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi. Pengakuan itu diduga berasal dari makhluk halus yang merasuki tubuh Supiah, seperti kekhawatiran yang dirasakan keluarganya sebelumnya.

Selain itu Supiah juga mengaku dirugikan oleh aktivitas penambangan emas. Rumahnya hancur akibat aktivitas tersebut. Namun nenek misterius itu tak menyebut salah satu dari aktivitas tambang emas yang ada. Atau bisa jadi, kedua-duanya dituduh Supiah sebagai biang keladi kerugian yang dialaminya.

Aku wong Tumpang Pitu, omahku rusak, aku jaluk ijol, (Aku orang Tumpang Pitu, rumahku rusak, aku minta ganti-red),” jelas Supiah sinis, dengan nada terpenggal-penggal saat ditemui detiksurabaya.com, Rabu (13/5/2009) pagi. Sayang dia tidak menjelaskan rumah yang rusak dimaksudnya.

Nenek berbadan kurus itu juga mengancam akan membuat perhitungan dengan orang-orang yang dituduhnya merusak rumahnya. “Pasti ada balasannya,” gumam Supiah lagi dalam bahasa Jawa dengan mata melotot. Meski dibilang stres tetangganya, namun aktivitas kesehariannya tetap normal. Seperti saat ditemui dia sedang asyik memotong kayu di kebunnya untuk bahan bakar dan lain-lain.

pelawangan

Misteri Pelawangan Sebagai Gerbang Laut Selatan

Laut Pelawangan yang masuk kawasangan Desa Grajagan Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi dikenal warga setempat sebagai pintu gerbang menuju istana alam gaib. Perairan itulah, tempat nenek ‘sakti’ Supiah dipergoki duduk mengambang di atas air laut oleh nelayan setempat, Kamis (7/5/2009) malam lalu.

Menurut Syueb Akbar (65), sesepuh yang mengenal seluk beluk laut Pelawanagan asal Dusun Kampung Baru Desa Grajagan, Pelawangan merupakan pintu masuk bagi makhluk halus untuk masuk ke sebuah istana gaib terbesar. Sebab itu juga disebut sebagai Pelawangan, dalam bahasa jawa yang artinya lawang atau pintu.

Secara kasat mata, kata dia, Pelawangan memang seperti sebuah gerbang besar,tempat untuk menuju ke laut selatan bagi nelayan. Namun secara alam gaib, ombak yang bergulung-gulung di laut pelawangan sebetulnya merupakan jalan raya besar, layaknya jalan raya aspal di kota-kota besar. Bahkan kualitasnya lebih bagus.

“Pelawangan itu pintu masuk ke istana gaib, jalan rayanya sama dengan kita bahkan lebih bagus,” jelas Pak Syueb, tanpa menyebutkan istana gaib milik siapa saat bincang-bincang dengan detiksurabaya.com di rumahnya, Rabu pagi (13/5/2009).

Dijelaskan juga, Pelawangan dijaga oleh seorang tokoh gaib tersohor yang bernama Mbah Sapu Jagad. Tokoh itu merupakan pimpinan dari seluruh ‘danyang’ yang tersebar di laut selatan. Uniknya, para bawahan Mbah Sapu Jagad berasal dari seluruh alam gaib yang ada di nusantara.

“Beliau penjaga dari semua penjaga yang ada di laut selatan, istilahnya komandannya, tipa bulan Jawa pasti anak buahnya ganti, kebanyakan dari Makassar,” kata Syueb lagi.

Sebelumnya, lanjut Syueb, penjaga Pelawangan adalah Ki Ageng Wilis, yang kini pindah ke Gunung Tumpang Pitu, yang berada di Desa/Kecamatan Pesanggaran yang sudah terkenal dengan aktifitas penambangan emasnya. Gugusan gunung itu berada tepat di atas laut selatan di Pulau Merah, Pesanggaran.

Sebab itu, tak heran jika Supiah (65), nenek asal Dusun Selorejo Desa Temurejo Kecamatan Bangorejo, ditemukan sedang duduk mengapung di laut Pelawangan tersebut. Syueb menduga jika Supiah dibantu dan dibimbing ke laut oleh makhluk halus.

“Saya yakin Supiah itu orang biasa saja, dia bisa mengapung pasti dibawa oleh mereka (penunggu laut selatan),” jelas Syueb, yang dikenal warga setempat memiliki kedekatan dengan para penunggu laut Grajagan dan sekitarnya.

MUI: Supiah Tidak Perlu Direaksi Berlebihan

Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta masyarakat untuk tidak terjebak dalam fenomena Nenek Supiah, yang dipergoki nelayan setempat sedang duduk di atas permukaan laut, Pelawangan, Grajagan Banyuwangi. Sebab, fenemone itu merupakan hal yang wajar terjadi di dunia.

Menurut Nur Chozin, Sekretaris MUI Banyuwangi, sebagai muslim, sepatutnya syariah digunakan sebagai pedoman dalam menghadapi sesuatu hal. Sebab itu, warga diharapkan untuk tidak melangkah dari rel syariah yang ada.

“Sebagai umat beragama khususnya Islam, pijakan kita tentunya Syariah. Jangan sampai kita menyekutukan Allah,” tegas Nur Chozin dalam bincang-bincangnya dengan detiksurabaya.com, Rabu (13/5/2009) siang.

Untuk itu, warga diharapkan tidak terjebak dalam fenomena yang menghebohkan itu dengan menyikapinya secara berlebihan. MUI menilai Supiah tak lebih dari seorang manusia biasa, yang harus tunduk dengan Yang Maha Pencipta.

“Supiah sama dengan kita, hanya manusia biasa. Tidak perlu disikapi secara berlebihan. Apalagi menganggapnya sebagai dukun atau dewa,” lanjut Nur Chozin lagi memperingatkan.

Meski begitu, Nur Chozin tak menampik jika dirinya percaya dengan hal yang ghaib. Sebab sebagai orang beriman, hal itu harus dipercayai.

“Allah itu juga menciptakan Jin. Jin ada yang baik dan buruk, nah bisa jadi Supiah itu dibawa oleh Jin. Namun Jin yang mana saya tidak tahu,” ungkap Nur, coba menebak apa yang sebenarnya terjadi dengan Supiah.

Kekhawatiran MUI itu bukan tanpa alasan. Sebab, ada beberapa warga yang mulai mendatangi Supiah dengan berbagai niat. Bahkan ada yang meminta untuk diberi nomor judi Togel.

MUI juga khawatir jika nantinya, peristiwa Ponari Jombang akan tejadi di Banyuwangi. Sebab itu, langkah-langkah antisipasi akan dilakukan. Seperti melibatkan tokoh-tokoh agama untuk lebih melakukan bimbingan kepada masyarakat.

“Sebelum terjadi tentunya langkah antisipasi kami lakukan, tapi mudahan tidak terjadi seperti di Jombang,” kata Kyai yang juga bekerja di Pangadilan Agama Banyuwangi, menutup pembicaraan.

Tingkah Supiah Makin Menakutkan

Tingkah Supiah semakin aneh saja. Nenek yang dipergoki duduk mengapung di laut Pelawangan, Grajagan, Banyuwangi, sepekan lalu itu, kini meminta sejumlah perlengkapan dapur tradisional kuno yang biasanya dipakai masyarakat pedesaan di Jawa.

Perlengkapan dapur yang dimintanya yakni, kendi, wajan, entong dan kendil. Kecuali entong, kesemua perlengkapan yang dimintanya itu harus terbuat dari tanah. Bahkan entong yang dipesannya tersebut harus terbuat dari kayu berwarna hitam.

Lebih anehnya lagi, perlengkapan itu akan dibelinya dengan cara barter. Namun jangan sangka jika Supiah akan membarter dengan barang berharga setara dengan barang yang dimintanya. Nenek berusia lebih dari setengah abad tersebut menawarkan barter perlengkapan dapur dengan anjing.�

Aku tuku kendi, kendil, wajan karo entong, kabeh teko lemah, entonge kayu, siji-siji. Tak bayar karo asu yo, (Aku beli kendi, kendil, wajan sama entong, semua dari tanah, entongnya kayu, satu-satu. Saya bayar dengan anjing ya-Red),” pinta Supiah kala ditemui detiksurabaya.com di rumahnya, Kamis (14/5/2009).

Saat ditolak barter anehnya itu, Supiah justru akan membayar dengan manusia. “Nek gak gelem yo tak ganti bayar karo menungso, gelem?( Kalau tidak mau ya saya ganti dengan manusia, mau?-red),” kata Supiah lagi.

Kala ditanya akan dipakai untuk apa, Supiah menjawab akan memakai perlengkapan itu sesuai dengan fungsinya. Namun cara barternya tersebut mengundang ketakutan dari pihak keluarganya. Sebab, Supiah meski dianggap para tetangganya� stres namun tak pernah ngelantur sejauh itu saat berbicara.

“Kok lama-lama tambah aneh saja dia itu, mudahan tidak ada maksud apapun dari bicara ngelanturnya itu,” kata Saudah (32), adik kandung SUpiah dengan nada penuh kekhawatiran.

Supiah Dipercayai Jelmaan Nyi Blorong dan Simbol Malapetaka

Nama Supiah sekarang ini menjadi buah bibir. Ada yang meragukan namun tak sedikit juga yang mempercayai. Nenek yang dipergoki duduk mengambang di laut Pelawangan, Grajagan, Banyuwangi itu dipercaya disusupi penghuni laut selatan dan bahkan kehadirannya bisa menimbulkan musibah.

Pandangan itu diungkap Mbah Syaid, tokoh yang dituakan dari Kecamatan Genteng, Banyuwangi. Menurut pria yang mampu melakukan peneropongan secara gaib ini, Supiah sejatinya adalah perempuan berkepala manusia berbadan ular. Atau biasa disebut oleh masyarakat Jawa selama ini sebagai Nyi Blorong.

“Makhluk halus yang dikenal kejam itu sudah lama ada di dalam tubuh Supiah. Supiah itu sejatinya Nyi Blorong,” ungkapnya kala ditemui detiksurabaya.com di rumahnya, Kamis (14/5/2009).

Dijelaskan juga, tujuan Supiah ke laut bukan untuk mencari anaknya saja. Tapi meminta bantuan sesama makhluk halus, akibat pemukiman mereka (makhluk halus) di Gunung Tumpang Pitu rusak akibat penambangan emas. Sebab itu pula, sudah mulai ada tanda-tanda jika permintaan Supiah direspon oleh rekan-rekannya di laut selatan.

“Tak akan lama lagi akan ada goro-goro (masalah) yang berawal dari tambang emas, penghuni laut selatan dan Alas Purwo mulai turun gunung,” jelas dia seakan memperingatkan. Apalagi sebelumnya Supiah mengaku berasal dari Gunung Tumpang Pitu. Padahal dia sehari-harinya tinggal di Dusun Selorejo Desa Temurejo Kecamatan Bangorejo.

Pernyataan serupa juga disampaikan Syueb Akbar, sesepuh Pesisir Grajagan. Laki-laki yang terkenal dekat dengan para penunggu laut Grajagan itu, mengaku, jika dirinya sudah ditemui Ki Ageng Wilis, penunggu Gunung Tumpang Pitu.

Dalam pertemuannya itu, Ki Ageng Wilis yang dulunya penunggu laut Pelawangan tersebut mengingatkan, jika akan ada masalah besar akibat adanya tambang emas.

“Ki Ageng Wilis bertemu dengan saya, beliau sesaat turun dari kudanya, bilang jika dalam waktu dekat akan ada marabahaya yang disebabkan dari tambang emas,” ungkap Syueb kala ditemui di rumahnya.

Kampung Penemu Supiah Diteror Bola Api dari Laut Selatan

Peristiwa aneh mulai meneror warga Dusun Kampung Baru Desa Grajagan Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi pasca ditemukannya Supiah duduk di tengah laut Pelawangan. Kampung tersebut adalah tempat tinggal para nelayan yang menemukan Supiah di laut.

Rabu malam (13/5/2009), warga setempat digegerkan dengan terbangnya dua bola api yang melintas di atas pemukiman. Warga menduga bola api itu ada kaitannya dengan fenomena nenek ‘sakti’ Supiah yang tinggal di Dusun Selorejo Desa Temurejo Kecamatan Bangorejo.

Beberapa sakti mata menyebutkan, jika bola api pertama muncul dari arah laut selatan, sekitar lokasi di temukannya Supiah duduk mengambang di atas laut. Bola api pertama itu terbang menuju ke arah pemukiman nelayan.

Diwaktu yang nyaris bersamaan muncul bola api kedua dari arah barat. Anehnya, kedua bola api yang sedang terbang itu pecah berantakan saat melintas di atas masjid setempat.

“Bola api itu keluar dari laut selatan mas, satu dari arah Barat. Pecah berantakan pas di atas masjid,” jelas salah satu saksi mata, Yanto yang dihubungi detiksurabaya.com, Kamis (14/5/2009) siang.

Beragam spekulasi pun mengalir. Salah satunya, Yanto mengkaitkan dengan peringatan dari Supiah yang meminta warga untuk menggelar selamatan bubur grendul pada Jumat pon.

“Ini pasti jawaban dari permintaan nenek Supiah untuk selamatan bubur grendul,” kata Dua Yamani, nelayan Grajagan lainnya. Menurut Yanto, warga desa malam ini yang jatuh pada Jumat pon akan menyelenggarakan hajatan untuk menolak bala seperti yang diminta Supiah.

bertapa

Warga Larung Bubur Grendul Sesuai Pesan Supiah

Akhirnya warga Grajagan, Banyuwangi memenuhi permintaan dari Supiah (65), untuk melakukan selamatan jenang/bubur grendul, Kamis (14/5/2009) sore. Selamatan ini dilakukan dengan cara melaruang ke laut setempat, tepat bersamaan hari Jumat Pon, atau datangnya musibah Tsunami 15 tahun silam.

Awalnya, ritual larung itu akan dilakukan Jumat (15/5/2009) besok. Namun setelah dicermati, ternyata hari Jumat pon, hari yang diminta Supiah sebagai hari pelaksanaannya, jatuh pada sore hari ini. Sesuai penanggalan jawa selisih satu hari dengan kalender reguler.

“Kata sesepuh, pas Kamis sore, hari Jumat pon itu sudah masuk jadi kami majukan pelaksanaannya,” jelas Supariyanto, salah satu tokoh nelayan Grajagan disela-sela ritual pelarungan.

Warga memilih untuk menuruti permintaan Supiah. Sebab hal itu dilakukan semata-mata hanya untuk antispasi hal yang tidak diinginkan seperti datangnya marabahaya. Terlebih nelayan Grajagan memilik pengalaman pahit, bencana Tsnumani.

Sebelumnya sesaat setelah ditemukan duduk mengapung di laut Pelawangan, SUpiah mengingatkan agar warga menggelar selamatan jenang/bubur grendul.Saat itu Supiah tidak menyampaikan alasannya kenapa waktunya harus Jumat Pon.

Acara diikuti oleh ratusan warga Desa Grajagan yang berasal dari Dua Dusun, yakni, Dusun Grajagan Pantai dan Dusun Kampung Baru. Mereka masing-masing datang ke pesisir dengan membawa makanan sesuai permintaan Supiah.

Pantai Klampok, pantai yang paling dekat dengan laut Pelawangan dipilih sebagai tempat dilakukannya acara. Sebelum dilakukan pelarungan, sesepuh setempat yang memimpin ritual memberikan petuah serta doa bersama bagi keselamatan seluruh Desa.

“Kita tetap panjatkan puji syukur pada Tuhan Yang Maha Esa, karena kita diberi peringatan melalui Mbah Supiah. Kita niati saja ini sebagai Shodaqoh,” jelas Syueb Akbar, sesepuh Grajagan kala memberikan petuah dihadapan ratusan warga.

Jenang/bubur grendul yang disudah diberikan doa, satu persatu oleh warga dilarung kelaut. Sekejap makanan yang ditaruh dalam wadah yang terbuat dari daun pisang itu hanyut terbawa arus menuju ke Pelawangan. Sebagian lagi oleh warga dibagi-bagi untuk disantap beramai-ramai.

Seusai melakuan larung sesaji kelaut, warga berharap di kampung tidak terjadi hal-hal yang aneh lagi. Meski malam sebelum dilakukannya ritual, terjadi teror 2 bola api yang terbang melintasi desa mereka. “Semoga Desa kami aman, dan kami tidak was-was lagi. Semoga bola api itu kejadian yang terakhir kalinya,” harap Supariyanto..

bertapa

bertapa

detikdotcom

5 Tanggapan

  1. SAYA SANGAT BERTERIMAKASIH BANYAK KEPADA AKI AGENGJOYO KARNA BERKAT BANTUANNYA SAYA YANG DULUNYa
    CUMA PENGUSAHA KECIL DAN SEBAGAI PENGUSAHA KECIL,SAYA SANGAT MEMBUTUHKAN YANG NAMANYA TAMBAHAN
    AHMODAL UNTUK USAHA..ALHAMDULILLAH ATAS BANTUAN AKI AGENGJOYO KINI USAHA SAYA MAKIN
    BERKEMBAN DAN SAYA TIDAK PERLU LAGI PINJAM UANG DI BANK YANG PENUH RESIKO,KINI HANYA
    DENGAN MELAKUKAN “TRIK RAHASIA” AKI AGENGJOYO SAJA SAYA BISA MENAN 4D DAN DENGAN
    PENUH HARAPAN SAYA YANG DULUNYA SELALU MENCARI-CARI TAMBAHAN PENGHASILAN DAN SECARA TIDAK
    SEGAJA SAYA MENEMUKAN BEBERAPA KOMENTAR TENTANG AKI AENGJOYO DI INTERNET,KARNA PENASARAN
    AKHIRNYA DENGAN SISA UANG SAYA YANG TINGGAL SEDIKIT DAN SAYA JUGA MENGIKUTI SARAN AKI
    AGENGJOYO DAN SYUKUR ALHAMDULILLAH BERHASIL,,JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA SILAHKAN HUBUNGI
    AKI AGENGJOYO DI 0823-4444-5588 NOMOR RITUAL AKI AGENGJOYO MEMAN TIDAK ADA DUANYA..

    KARNA RASA HATI YANG GEMBIRA MAKANYA NAMA BELIAU SAYA CANTUNKAN DI INTERNET…

  2. ad2 aj….
    mnkin dgn adx krusakan2 alam trsebut mkhluk ddnia gaibpun ikut prihatin dngn keadaan bumi…

    yg pnting kt sbagi umat islam sejati jgn ikut mnjdi syirik pula dng adx pmberitaan yg aneh2 trsebut,tetap twakal…

  3. ya ituLah yang dnmakaN kebesar allah SWT…..
    walaupuN org gk pernah liat nenek itu shoLat aq yakin lo nenek itu berada pada jaLan allah….

  4. bagi saya.tak ada yang tak mungkin bagi allah.tapi dengan kejadian seperti ini. kita jangan musrik aja.kita berpedoman pada alqur.an menjadi umat muhammad yang beriman kpd allah.entar gelisah lg….. sidikit dikit kok ….bisa …….
    kok bisa….wollohu aklam bissawab

    Redaksi : ” Segala kejadian ada yg ngatur .sip”
    😀

  5. trus ulama di kemanain????
    wah ujung-ujungnya ke arah musrik…
    warga kampung jadi pada nurut ama si supiah…
    liat donk si supiah ibadahnya gmn???
    (Gw kan cuma nanya…)

    Penulis : ” Aduh, gue gak tau tuch..hehehe”😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: