WS Rendra Meninggal Dunia

lkJakarta – Setelah sempat sakit-sakitan, akhirnya penyair WS Rendra (75 tahun) meninggal dunia. Budayawan tersebut meninggal setelah sempat keluar dari RS yang merawatnya. Rendra meninggal pada Kamis (6/8/2009) pukul 22.10 WIB di RS Mitra Keluarga Depok.

“Betul (meninggal dunia), tapi saya nggak bisa jawab apa-apa yah, mohon maaf, tanya ke yang lain saja” jawab salah satu putri Rendra, Mariam, saat dihubungi detikcom, Kamis (6/8/2009).

Gara-gara sakit, Rendra tidak bisa menghadiri prosesi pemakaman sahabat karibnya, Mbah Surip di Makam Bengkel Teater, miliknya, Selasa (4/8/2009) lalu.

Penyair bersuara serak ini sebelumnya dirawat di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Kelapa Gading. Rendra masuk rumah sakit akibat jantung koroner yang dia alami.

Sebelumnya pria kelahiran Solo tahun 1935 itu sempat dirawat di RS Cinere sejak Kamis, 25 Juni. Namun karena kondisinya tidak membaik, Rendra lantas dirujuk ke RS Harapan Kita, lalu dirujuk lagi ke RS Mitra Keluarga.

Rendra sebenarnta sudah meninggalkan rumah sakit hanya beberapa saat setelah Mbah Surip meninggal dunia. Rendra bahkan sempat mengizinkan Mbah Surip dimakamkan di komplek pemakaman Bengkel Teater di Citayam, Depok.

Willibrordus Surendra Broto Rendra lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935. Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967. Pada perkembangannya Bengkel Teater dipindahkan Rendra di Depok.

WS Rendra Tetap Melucu Saat Sakit
Penyakit yang mendera fisiknya, tak mengurangi kebiasaan WS Rendra untuk terus melucu. Sebagai seorang seniman, Rendra bahkan tetap menjadi ‘sutradara’ saat di rumah sakit.

“Walaupun sakit dia masih sempat melucu,” kata artis senior Ratna Riantiarno di rumah duka, di Perumahan Pesona Depok Blok AV No 5, Jumat (7/8/2009).

“Ini Mas Rendra lagi akting sakit, ya?” Kenang Ratna.  Ditanya demikian, Rendra pun menjawab, “Iya.”

Menurut Ratna, seluruh jenis obat yang diterima Rendra selalu ditanya dengan rinci. “Dia memang nggak bisa diatur. Ya namanya sutradara, di rumah sakit pun dia masih men-direct,” canda Ratna.

Ratna percaya, dunia seni akan sangat kehilangan sosok Rendra. Si Burung Merak tersebut adalah inspirasi bagi anak-anak muda pencinta seni.

“Dunia seni teater pasti kehilangan, dia inspirasi bagi anak-anak muda sampai akhir hayatnya, sosok seperti dia bisa dihitung dengan jari,” pungkasnya.

WS Rendra Tinggalkan ‘Wasiat’ Melalui Puisi
Meski sudah terkenal, ternyata masih banyak keinginan WS Rendra yang belum terpenuhi. Dan itu semua terekam dalam sebuah puisi yang dibuatnya beberapa hari sebelum Si Burung Merak tersebut menghembuskan nafasnya yang terakhir.

“Dia meninggalkan satu puisi, puisi itu menyebutkan bahwa masih banyak keinginannya tetapi dia tidak bisa. Jadi daya masih ada tapi dia tidak bisa mengatasi kelelahannya,” kata salah satu sahabat Rendra, sastrawan Jose Rizal Manua di Perumahan Pesona Depok Blok AV No 5, Jumat (7/8/2009).

Puisi itu dibuat Rendra sekitar 3-4 hari lalu saat dia masih dirawat di rumah sakit. Dari sekian banyak tulisan yang dibuat Rendra, Jose ingat betul isi keinginannya.

Puisi tersebut disampaikan oleh salah seorang putri Rendra. Jose pun langsung mengetahui puisi tersebut dari gaya tulisan khas Rendra.

“Saya waktu itu ada di dalam kamar (rumah sakit), saya melihat puisi itu saya baca dalam hati yang menyentuh itu tadi,” paparnya.

Usai Disalatkan, Jenazah WS Rendra Dibawa ke Bengkel Teater
Jenazah WS Rendra disalatkan lebih dulu di rumah duka, Perumahan Pesona Depok Estate. Usai disalatkan, jenazah WS Rendra langsung dibawa ke Bengkel Teater, Cipayung.

Pantuan detikcom, salat dimulai sekitar pukul 04.30 WIB, Jumat (7/8/2009). Sementara itu, sebagian kerabat terlihat mulai mempersiapkan kendaraan yang akan beriringan menuju Cipayung.

Tepat pukul 05.10 WIB, Jenazah Rendra yang juga diikuti oleh rombongan sanak keluarga dan sahabat bergerak meninggalkan rumah duka untuk menuju Cipayung.

Pencarian ‘Keyakinan’ WS Rendra Dimulai Sejak Kecil
Kehidupan spiritual penyair WS Rendra mungkin baru bisa terbaca setelah dia memasuki usia paruh baya. Namun sesungguhnya, proses pencariannya sudah dimulai sejak kecil.

Demikian diungkapkan KH Muchtar Husain saat memimpin acara persemayaman dan doa-doa di depan jenazah WS Rendra, di rumah salah satu anaknya di kompleks Pesona Depok Blok AV No 5, Jumat (6/8/2009).

Dikatakan Kyai Muchtar, dirinya turut menjadi saksi ketika ‘Si Burung Merak’ secara resmi memeluk agama Islam, yang disebutnya dilakukan di Parangtritis, Yogyakarta, di tahun 1971.

“Begitu dia mengucap syahadat, asyhadu alla ila ha illallah, dia langsung bertanya pada saya, ‘apakah saya sekarang sudah islam, ustadz?'”

“Ya, kamu sudah islam sekarang,” tuturnya.

“Meski begitu saya tahu, dia sudah mencari sejak umur 13 tahun, bahkan saat 4 tahun, pencarian yang prosesnya mungkin kita tidak tahu,” sambung sosok yang dianggap almarhum Rendra sebagai salah satu gurunya itu.

Tentang kehidupan spiritual Rendra, aktor Alex Komang menceritakan pengalamannya saat bertemu budayawan besar itu untuk pertama kalinya di tahun 1993.

“Waktu ke rumahnya di Cipayung, saya diajak melihat-lihat kebunnya, perpustakannya, buku-buku dan kitab-kitabnya,” ujar Alex kepada detikcom.

“Yang saya tangkap waktu itu, dia ini sedang mengalami hijrah ke dunia spiritual. Dia merasa sangat menikmati belajar ilmu-ilmu tafsir,” tambah seniman akting yang ikut bermain dalam film bertema bom Bali, Long Road to Heaven, itu.

Alex melanjutkan, walaupun dirinya tak pernah bekerja sama langsung dan berhubungan intens dengan almarhum, tapi ia begitu kagum pada sosok Rendra.

“Dengan energi yang dia miliki, tanpa bersinggungan langsung pun kita sudah bisa terinspirasi.”

Salah satu pesan pribadi yang pernah disampaikan Rendra kepada KH Muchtar Husain di masa-masa awalnya sebagai seorang muallaf adalah menyangkut keluarganya.

“Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa dulu sekali beliau pernah berharap, semoga anak-anak dan istrinya, keturunan-keturunannya, insya allah bisa memberi kebaikan buat orang lain, di dunia dan akhirat,” pungkas sang kyai.

WS Rendra Disalatkan Lagi di Masjid Jami Nurul Yaqin
Sebelum dimakamkan, jenazah Wahyu Sulaiman (WS) Rendra akan disalatkan di Masjid Jami Nurul Yaqin. Jenazah budayawan itu dibawa ke masjid yang berada di dekat Bengkel Teater itu.

Seratusan pelayat tampak mengikuti saat jenazah dibawa ke masjid tersebut. Si Burung Merak akan disalatkan setelah Salat Jumat, Jumat (7/8/2009).

Lalu lintas di Jalan Citayam sedikit tersendat saat jenazah Rendra dibawa melintas. Polisi tampak sibuk mengatur kendaraan agar tidak berhenti di sekitar lokasi sehingga menyebabkan kemacetan.

Rencananya Rendra akan dimakamkan tidak jauh dari makam Mbah Surip ‘Tak Gendong’. Penyair bernama asli Willibrordus Surendra Broto Rendra itu meninggal di RS Mitra Keluarga Depok, Kamis 6 Agustus malam.

Sebelumnya, bapak 10 anak sempat masuk rumah sakit hingga beberapa minggu karena jantung koroner. Kondisi Rendra sempat membaik dan diperbolehkan pulang. Namun ternyata fisik Rendra kembali menurun dan akhirnya meninggal dunia.

Akhir Tahun Lalu, Rendra Sudah ‘Pamitan’
Tanda-tanda akan surutnya WS Rendra telah dirasakan oleh Sugiyatno, salah seorang sahabat dekatnya di Solo. Bulan Desember tahun lalu, Rendra datang ke Solo. Saat itu kepada Sugiyatno, Rendra meminta pamitan secara khusus yang bisa ditafsirkan akan meninggalkan segala urusan di dunia.

“Bulan Desember tahun lalu adalah perjumpaan terakhir secara fisik antara saya dengan Mas Willy. Saat itu kepada saya Mas Willy minta pamit. Beliau menyebut pamitannya sebagai pamitan basuki,” papar Sugiyatno saat ditemui di rumahnya di Solo, Jumat (7/8/2009).

Pamit basuki adalah istilah khusus untuk menyebut akan segera meninggalkan segala urusan di dunia. Pamitan seperti itu sering dilakukan orang-orang tertentu yang memiliki kepekaan batin atau prarasa akan segera datangnya ajal.

“Mas Willy orang yang biasa olah batin dan dekat dengan alam. Meskipun saat itu dia masih kelihatan segar-bugar, namun barangkali dia sudah merasakan ajal sudah semakin dekat menghampiri,” tambahnya.

Sugiyatno mengaku sangat terpukul atas kepergian Rendra, apalagi dia tidak bisa datang langsung ke Bengkel Teater untuk melihat untuk terakhir kalinya sosok orang yang dihormatinya. Hal itu lantaran saat ini Sugiyatno juga harus menunggui istrinya yang sedang sakit.

“Saya sedih. Kalau ke Solo, kemanapun Mas Willy hendak pergi, saya yang mengantar. Beliau sering ngobrol sampai malam dan menginap di rumah ini. Beliau bahkan datang dari Jakarta ketika bapak saya meninggal. Tapi saat beliau wafat, saya tidak bisa mengantarnya ke pemakaman,” ujarnya sambil berkaca-kaca.

Tahlilan

Rasa kehilangan terhadap sosok Rendra juga dirasakan para seniman Solo. Maklum seniman kawakan itu pernah tinggal di Wisma Seni Taman Budaya Surakarta pada tahun 1999 hingga 2002, sehingga bisa sangat dekat dengan banyak seniman lintas generasi.

Sebagai bagian dari kecintaan mereka, pada 11 Agustus mendatang para seniman di Solo akan menggelar doa bersama di Wisma Seni. Doa dan ungkapan duka akan mereka ekspresikan melalui berbagai media baik tahlil, lagu-lagu, musik, puisi dan ekspresi lainnya.

Hari ini, sejumlah murid SMA Santo Yosef juga menggelar musikalisasi puisi karya Rendra. Acara tersebut digelar untuk megantar kepulangan Rendra ke haribaan Tuhan. Di SMA tersebut Rendra pernah mengenyam pendidikan sebelum meneruskan studinya ke Fakultas Sasta UGM.

Jockie Suryo Prayogo: Rendra Tak Pernah Memakai ‘Topeng’
Sahabat dekat WS Rendra, Jockie Suryo Prayogo, mengaku kaget dengan kabar meninggalnya salah satu penyair besar Indonesia itu. Dalam kenangan Jockie, Rendra adalah sosok yang apa adanya, tak pernah memakai “topeng”.

“Kita kehilangan tokoh bangsa, seniman dan budayawan besar. Dia manusia yang tidak pernah coba memakai topeng, selalu hadir sebagai manusia seutuhnya dengan segala kelebihan dan kekurangannya,” ujar Jockie ketika ditemui di rumah duka, Jumat (7/8/2009) dinihari WIB.

“Kita mesti belajar banyak dari dia,” tandas pria yang pernah berkolaborasi dengan Rendra di grup musik Kantata Takwa ini. Jockie mengucapkan testimoninya mengenai Rendra dengan sesekali jeda, sembari menahan haru.

Jockie juga mengungkapkan bahwa banyak pemikiran-pemikiran Rendra yang bermanfaat bagi Indonesia. Ada beberapa hal yang diajarkan Rendra kepada orang-orang di sekitarnya, termasuk salah satunya adalah mengenai ketekunan dalam melakukan sesuatu.

“Sejak saya sama dia di era reformasi, saya melihat pikiran-pikran dia bermanfaat buat bangsa. Kalau saya bisa mewakili, itu yang bikin kita gelisah. Kita nggak bisa menggunakan kesempatan ketika itu ada.”

“Saya kaget mendegar kabar ini, terus terang saya berharap banyak dari dia. Ketekunan, itu yang dia ajarkan kepada kita. Walaupun ketekunan itu tak menghasilkan apa-apa,” tutupnya.

Mulyana: Belum Ada Budayawan Seperti Beliau
Kepergian penyair kondang, WS Rendra memang begitu mengejutkan para sahabatnya. Bahkan bagi mantan anggota KPU, Mulyana W Kusumah, figur Rendra sebagai seorang budayawan belum tergantikan.

“Saya kira sampai sekarang budayawan belum ada yang seperti beliau,” kata Mulyana di rumah duka, di Perumahan Pesona Depok Blok AV No 5, Jumat (7/8/2009).

Menurut Mulyana, puisi Rendra juga sering masuk ke ranah politik. Meski dengan kondisi yang tidak lagi fit, lanjut Mulyana, Rendra masih sanggup membacakan puisinya dengan waktu yang tidak sebentar.

“Dia pernah pidato mengenai negara, saat itu walaupun nafasnya ini (tersengal-sengal), dari yang tadinya cuma 15 menit, sampai 45 menit,” ungkapnya.

Sosok Rendra dikenal Mulyana sebagai seorang yang sangat peduli akan nilai-nilai kebangsaan.

Moerdiono Sedih Tidak Sempat Jenguk Rendra
Kematian seniman WS Rendra menimbulkan duka yang dalam bagi banyak orang. Termasuk mantan Mensesneg Moerdiono.

Saat ditemui di rumah duka Komp. Pesona Depok Blok A no. 5, Depok, Kamis (6/8/2009) malam WIB, Moerdiono tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya.

“Saya terakhir kali ketemu almarhum minggu lalu. Beliau terlihat lebih sehat. Saya menyesal sekali kemarin tak sempat jenguk,” ujar Moerdiono.

Mantan menteri di zaman Orde Baru itu memang telah mengetahui penyakit yang diderita Rendra. Namun tetap saja kematian sang maestro menimbulkan rasa kehilangan yang mendalam.

“Kita kehilangan seorang seniman dan pemikir yang hingga detik terakhir masih memikirkan nasib bangsa,” tukasnya lagi.

Iwan Fals Terpukul dengan Kepergian Si Burung Merak
Kepergian penyair Willibrordus Surendra Broto Rendra atau Wahyu Salaiman Rendra yang dikenal dengan WS Rendra menyisakan luka mendalam. Tak terkecuali bagi penyanyi Iwan Fals.

Iwan Fals yang datang ke rumah duka, di Perumahan Pesona Depok Blok AV No 5, Jumat (7/8/2009) pukul 00.30 WIB langsung masuk ke dalam. Sekitar 40 menit ia berada di dalam rumah tersebut.

Usai melayat, tanpa komentar apa pun, ia langsung ngeloyor masuk menuju mobilnya. Namun raut mukanya menunjukkan kesedihan yang begitu mendalam terhadap kepergian Rendra tersebut. Iwan Fals bersama WS Rendra pernah mendirikan grup musik Kantata Takwa.

Sementara itu, bagi istri mendiang aktor Sophan Sophiaan, Widyawati, Rendra adalah sosok yang memiliki karisma luar biasa. “Dia memang mempesona, karismanya yang besar sekali, itu sebabnya dia dijuluki si burung merak,” papar Widyawati.

Gus Dur Merasa Kehilangan WS Rendra
Mantan Presiden RI, Gus Dur merasa sedih atas meninggalnya WS Rendra. Bagi Gus Dur, di antara mereka berdua memiliki kesamaan visi soal berbangsa.

“Pasti ada rasa kehilangan yang mendalam terutama dari Gus Dur,” kata putri Gus Dur, Yenny Wahid di rumah duka di Perumahan Pesona Depok Blok AV No 5, Jumat (7/8/2009).

Bagi Yenny, keterikatan Gus Dur dan Rendra terekam dalam komunitas Dewan Kesenian Jakarta. Kebetulan Rendra memang sempat menjabat sebagai ketuanya.

Rendra dan Gus Dur juga memiliki keberanian untuk mendobrak nilai-nilai yang ada demi kemajuan Indonesia. Bagi Yenny, hanya mereka berdua lah yang memiliki keberanian untuk mendobrak itu semua.

“Memaksa bangsa kita supaya bisa berfikir merdeka melampaui batas-batas yang kaku,” papar Yenny.

WS Rendra Bukan Hanya Seniman Tapi Juga Negarawan
Sosok penyair kondang WS Rendra dinilai lebih dari sekedar seniman atau budayawan. Lewat karya-karyanya yang sering mengungkap masalah bangsa, ia juga layak disebut negarawan.

“Dia salah satu tonggak sejarah kebudayaan dan kesenian. Dia bukan saja budayawan atau seniman tapi cara berfikirnya sudah seperti negarawan,” kata aktor senior Deddy Mizwar usai melayat jenazah WS Rendra di depan rumah duka, Perumahan Pesona Depok Estate Blok AV No 5, Depok, Jawa Barat, Jumat (7/8/2009).

Menurut Deddy, pribadi negarawan Rendra bisa dilihat dari karya-karyanya yang berpihak pada kepentingan rakyat. Sajak, drama, maupun karya-karyanya yang lain selalu mengangkat tema-tema tentang penderitaan rakyat.

“Waktu saya ke RS (Kelapa Gading) dia masih bicara tentang bangsa, tentang keprihatinan rakyat. Dia sudah tidak lagi menggubris puisi dan karya-karyanya tetapi lebih peduli tentang bangsa dan rakyat. Bahkan ia juga tidak setuju dengan neolib,” ungkap pemeran Jenderal Naga Bonar ini.

Sebagai seorang sahabat, Deddy sangat mengagumi pribadi Rendra yang gigih dan idealis. Walau dalam sakit pun, Rendra masih memikirkan keprihatinan rakyat.

“Rendra tidak pernah mengeluh, dia selalu berbagi dengan menyenangkan dan tidak otoriter. Di ujung hayat keprihatinan saat di ICU dia tetap membicarakan tentang bangsa,” imbuhnya.

“Ia tetap Si Burung Merak baik sakit maupun sehat,” pungkasnya.

Meski Telah Tiada, Pemikiran WS Rendra Tetap Hidup
Si Burung Merak WS Rendra telah terbang selama-lamanya. Namun pemikiran kritisnya dipastikan akan tetap hidup.

“Satu lagi anak terbaik dari bangsa ini meninggalkan kita. Tapi sumbangsih dia, pemikiran dia akan tetap hidup,” kata aktor Alex Komang di Bengkel Teater WS Rendra, Cipayung, Jumat (7/8/2009).

Alex sendiri mengaku jika ia adalah salah satu pengagum karya-karya Rendra. Baginya, suatu kebanggaan tersendiri saat diperbolehkan masuk ke perpustakaan pribadi Rendra.

“10 tahun lalu saya agak tersanjung diperbolehkan masuk ke perpustakaannya. Kalau bicara dengan beliau seperti samudera yang dalam dan tak berdasar,” jelasnya.

Rendra ‘Si Burung Merak’ yang Vokal
Penyair ternama WS Rendra meninggal dunia pada usia 74 tahun di RS Mitra Keluarga, Depok, Jawa Barat, Kamis (7/8/2009) malam sekitar pukul 22.00 WIB. Pria bernama lengkap Wahyu Sulaiman Rendra ini meninggalkan 10 orang anak dari 3 pernikahannya.

Rendra selama ini dikenal sebagai penyair bersuara lantang yang mahir memainkan irama serta tempo. Ia juga handal membakar emosi penonton.

Pria yang akrab dipanggil Willy ini mencurahkan sebagian besar hidupnya dalam dunia sastra dan teater. Menggubah sajak maupun membacakannya, menulis naskah drama sekaligus melakoninya sendiri, dikuasainya dengan sangat matang. Sajak, puisi, maupun drama hasil karyanya sudah melegenda di kalangan pecinta seni sastra dan teater di dalam negeri, bahkan di luar negeri.

Ia bukanlah penyair biasa. Sajak dan puisinya tidak sedikit berisi nada protes. Tak heran ia dikenal sebagai penyair yang kritis terhadap pemerintah. Karya-karyanya yang berbau protes pada masa aksi para mahasiswa sangat aktif di tahun 1978, membuat suami Ken Zuraida ini pernah ditahan oleh pemerintah berkuasa saat itu.

Tidak hanya sajak dan puisi yang sering mengalami tekanan kekuasaan, dramanya yang terkenal berjudul SEKDA dan Mastodon dan Burung Kondor juga pernah dilarang untuk dipentaskan di Taman Ismail Marzuki. Di samping karya berbau protes, dramawan kelahiran Solo, 7 Nopember 1935, ini juga sering menulis karya sastra yang menyuarakan kehidupan kelas bawah seperti puisinya yang berjudul ‘Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta’ dan puisi ‘Pesan Pencopet Kepada Pacarnya’.

Kepiawaian Rendra dalam membacakan syair maupun berteater bukan sesuatu yang gratis dari langit. Kemampuannya sudah dimulai diasah sejak ia kuliah di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada. Rendra dikenal giat menulis cerpen dan essai di berbagai majalah sepeprti Mimbar Indonesia, Basis, Budaya Jaya, Siasat.

Selain memiliki bakat, ia terus mengelaborasi kemampuannya dalam dunia seni dengan menimba ilmu di American Academy of Dramatical Art, New York, USA. Sekembalinya dari Amerika pda tahun 1967, pria tinggi besar berambut gondrong ini mendirikan bengkel teater di Yogyakarta. Tak lama bengkel teater tersebut ia pindahkan ke Citayam, Cipayung, Depok, Jawa Barat.

Karena karya-karyanya yang begitu gemilang, Rendra beberapa kali pernah tampil di acara berskala Internasional . Sajaknya yang berjudul ‘Mencari Bapak’, pernah dibacakannya pada acara Peringatan Hari Ulang Tahun ke 118 Mahatma Gandhi pada tanggal 2 Oktober 1987, di depan para undangan The Gandhi Memorial International School Jakarta. Ia juga pernah ikut serta dalam acara penutupan Festival Ampel Internasional 2004 yang berlangsung di halaman Masjid Al Akbar, Surabaya, Jawa Timur, Selasa, 22 Juli 2004.

Kini, ‘Si Burung Merak’ itu telah terbang selamanya meninggalkan kita. Selamat Jalan Mas Willy. Semoga tenang disisi-Nya.

Al Kautsar, Film Religi Rendra yang Fenomenal
Tak cuma lihai membuat puisi, seniman WS Rendra juga pernah bermain film. Bahkan film yang dia bintangi tersebut menjadi hits pada era 80-an.

Film religi berjudul Al Kautsar karya sutradara ternama Cahaerul Umam ini menceritakan pemuda bernama Saiful Bachri (WS Rendra), seorang guru mengaji di pesantren Pabelan, Jawa Tengah. Saiful adalah pemuda tampan yang ahli agama. Selain pandai agama, Saiful juga pandai dalam hal pertanian, sehingga warga sekitar pesantren pun mengaguminya.

Namun selain membuat warga senang, ada juga segelintir warga yang mencibir kedatangan Saiful di desa tersebut. Haji Musa, tokoh desa setempat, mula-mula tidak suka dengan kedatangan Saiful. Saiful dianggap melakukan pembaruan di desa itu, terutama dalam hal pertanian.

Konflik pun semakin menganga saat Saiful berhadapan dengan Harun (Soultan Saladin), tengkulak desa yang biasa memeras petani miskin. Harun terkenal menghalalkan segala cara untuk bisa mewujudkan semua keinginan yang hendak dia dapat, termasuk membunuh suami Halimah (Yulinar Firdaus), janda muda yang ternyata menaruh simpati kepada Saiful.

Suami Halimah dibunuh oleh anak buah Harun lantaran Harun ingin memperistri Halimah yang cantik tersebut. Namun sayang, pujaan hati Harun telah menemukan cintanya kembali pada sosok ustadz Saiful. Harun pun naik pitam kepada anak muda pendatang itu.

Berbagai siasat dilakukan oleh Harun untuk memisahkan Saiful dan Halimah. Hingga pada suatu hari, saat Saiful bersama penduduk setempat membuat saluran air agar sawah desa itu tidak lagi tergantung hujan. Tak disangka, Halimah hanyut di sungai. Saiful menyelamatkannya dengan mengangkat tubuh Halimah ke tepian sungai. Agar nyawa halimah selamat, Saiful membuat napas bantuan. Harun menuding perbuatan itu zina!

Penduduk terhasut, sementara Haji Musa tak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya madrasah tempat Saiful mengajar dirusak. Dalam kondisi seperti ini, Saiful bisa menyadarkan Sutan (Wahab Abdi), warga setempat yang awalnya dianggap bejat.

Hingga pada suatu ketika, Saiful dan Sutan memergoki Harun yang hendak memperkosa Halimah. Sutan marah karena Harun dianggap menghina Tuhan. Ia lalu salat dan membakar gudang beras Harun yang dianggap sebagai tempat mesum. Perkelahian terjadi di dalam gudang yang terbakar. Lagi-lagi Saiful menyelamatkan mereka. Akhirnya nama Saiful pulih. Masyarakat kembali menerimanya. Dan Halimah, sang janda cantik, dinikahinya.

Film ini dianggap sebagai film religi yang sukses menyuarakan ajaran Islam, dibanding film religi bertema cinta seperti ‘Ayat-ayat Cinta’. Film yang dibuat pada tahun 1977 ini dianggap sebagai film dakwah Islam yang utuh dan membukukan sukses pertama film religi dalam riwayat perfilman nasional.

‘Tuhan, Aku Cinta Padamu..’ Puisi Terakhir Rendra
WS Rendra tetap berkarya meski dirawat di rumah sakit karena sakit jantung koroner. Puisi terakhir Rendra menghadirkan nuansa religius yang dalam, yang mengisyaratkan kecintaan pada Sang Pencipta.

“Tuhan, aku cinta padamu…” demikian penggalan puisi yang tak diberi judul itu. Puisi terakhir ini ditulis Rendra pada 31 Juli di RS Mitra Keluarga.

Teks puisi bertulis tangan itu diperlihatkan di rumah duka di Bengkel Teater, Citayam, Depok, Jumat (7/8/2009). Berikut teks puisi tersebut:

Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal

Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar

Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi

Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah

Tuhan, aku cinta padamu

Rendra
31 July 2009
Mitra Keluarga

Cerita Julukan ‘Si Burung Merak’ untuk WS Rendra
‘Si Burung Merak’, begitulah julukan penyair lintas generasi, Willibrordus Surendra Broto Rendra alias WS Rendra. Bagaimana kisah julukan Si Burung Merak itu muncul? Kisah ini bermula saat Rendra dan sahabatnya dari Australia berlibur di Kebun Binatang Gembiraloka, Yogyakarta.

“Waktu itu dia mengantar temannya dari Australia ke Yogya. Kemudian temannya itu diajak jalan-jalan ke Kebun Binatang Gembiraloka,” cerita sahabat dekat Rendra, Edi Haryono, kepada detikcom, Jumat (7/8/2009).

Nah, saat tiba di kandang merak, Rendra melihat seekor merak jantan berbuntut indah sedang dikerubungi merak-merak betina. “Seperti itulah saya,” tutur Edi mengulang ucapan Rendra. Kala itu Rendra memiliki dua istri yaitu Sunarti dan Sitoresmi.

Setelah kejadian tersebut, teman Rendra langsung cerita kepada teman-temannya. Berawal dari mulut ke mulut inilah akhirnya julukan Si Burung Merak melambung. “Temannya langsung cerita-cerita, Rendra kayak burung merak. Temannya di Yogya langsung menjuluki dia Si Burung Merak,” ungkap Edi.

Edi, yang kenal WS Rendra sejak tahun 1974 ini mengaku, memang pribadi Rendra mirip dengan merak. “Dia orangnya suka pamer. Seperti burung merak jantan yang suka memamerkan bulu-bulu indahnya,” cerita Edi.

Sebagai teman yang sangat dekat, Edi merasa sangat kehilangan. Dia menuturkan, semasa hidup Rendra adalah sosok yang sangat jenaka dan baik hati serta suka membantu teman yang kesusahan.

“Orangnya kocak, suka melucu, suka ngerjain teman-teman dekatnya. Tapi dia orang yang sangat teliti dan suka membantu teman-temannya,” ujar pria yang hingga saat ini masih menjadi pengurus Bengkel Teater milik Rendra di Citayam, Depok, ini.

Dia pertama kali mendengar kabar meninggalnya Rendra dari asisten pribadi Rendra, Arifin. “Arifin ngasih tahu sambil nangis. Dia bilang Mas Willi wis ora ono (Mas Willi sudah tidak ada),” cerita Edi.

“Rencananya almarhum akan dimakamkan usai salat Jumat nanti,” pungkas Edi.

Selamat jalan Si Burung Merak..

Pesan Rendra: Pejuang Harus Mau Susah
Selain seniman dan budayawan, WS Rendra juga dikenal sebagai aktivis yang gemar demonstrasi. Hingga tahun 90-an, pria yang dijuluki Si Burung Merak itu masih sering turun ke jalan.

“Dulu dia selalu bilang, kalau jadi pejuang harus mau susah. Itulah pesannya,” kata Adnan Buyung Nasution saat melayat sahabatnya itu di Bengkel Teater Rendra, Citayam, Depok, Jawa Barat, Jumat (7/8/2009).

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) itu terlihat sangat sedih dengan kepergian Rendra. Saat tiba di tempat Rendra disemayamkan, mantan pengacara senior itu sudah tampak berkaca-kaca.

Buyung juga terlihat terbata-bata saat mengucapkan kata-kata bela sungkawa. Sesekali, air mata menitik di pipinya.

“Saya sempat menengok waktu Rendra sakit, kita harus mendoakan agar diterima dan diampuni dosanya,” kata Buyung mengakhiri kata-katanya.

Mbah Surip dan Rendra Menutup Usia dengan Cinta
Sahabat akan selalu sehati, meski kadang ada riak-riak kecil menghalang. Begitulah ungkapan yang sepertinya pantas disandang oleh dua sahabat seprofesi, Mbah Surip dan WS Rendra. Keduanya akhirnya meninggal dunia dalam waktu yang tak jauh beda dengan sama-sama mengungkapkan kata cinta.

Mbah Surip meninggal dunia pada 4 Agustus lalu akibat serangan jantung, sedangkan WS Rendra meninggal Kamis (6/8/2009) malam akibat menderita penyakit yang tak jauh beda, jantung koroner.

Kesamaan lain, Mbah Surip menjelang ajal menjemput selalu mengatakan ‘I love you full’, kalimat yang akhir-akhir ini menjadi booming di khalayak. Sementara Rendra, juga mengungkapkan kata-kata cinta menjelang hari kematian. Ungkapan rasa cinta itu dia sampaikan melalui sebuah puisi saat dirawat di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Depok, Jawa Barat.

Namun kata-kata cinta Rendra dia tujukan kepada Sang Khalik, Tuhan pencipta alam semesta. “Tuhan, aku cinta pada-Mu”, begitulah bunyi penggalan puisi yang dia ciptakan 31 Juli 2009 lalu.

Mbah Surip dan WS Rendra memang sahabat dekat. Atas anjuran WS Rendra, Mbah Surip akhirnya dimakamkan di Bengkel Teater miliknya, meski Mbah Surip sendiri juga menginginkan hal itu.

Beberapa hari sebelum dirinya meninggal, Mbah Surip menyempatkan diri menjenguk Rendra yang terbaring di rumah sakit. Waktu itu Mbah Surip sudah menunjukkan firasat bahwa dia akan berpulang.

“Sepertinya nanti saya duluan (meninggal),” kata Mbah Surip saat menjenguk Rendra. Hal ini diucapkan oleh teman dekat Mbah Surip. Mamik ‘Srimulat’ Prakoso dalam sebuah wawancara di salah satu TV swasta.

WS Rendra pun juga pernah menjadi bintang iklan lagu ‘Tak Gendong’ karya Mbah Surip versi awal. Di Youtube, kita bisa dengan mengakses gambar dua sahabat itu dalam klip lagu yang membawa Mbah Surip menjadi milyarder dadakan.

Sebulan sebelum Mbah Surip tiada, WS Rendra melalui orang dekatnya, Kalong mengundang sesama seniman, termasuk Mbah Surip untuk menghadiri pengajian di Bengkel Teater. Mbah Surip yang kala itu tidak bisa hadir cuma memberi jawaban via SMS.

“Salam damai doa untuk Si Burung Merak Nusantara” demikian isi dalam pesan singkat itu tertanggal 18 Juli 2009.

Rendra juga sering mengingatkan kepada Kalong untuk membersihkan lingkungan areal pemakaman.

“Tak tahu firasat apa yang dirasakan Rendra. Tiap saya jenguk dia selalu mengatakan itu. Ya saya selalu jawab, sudah dibersihkan. Rumput-rumput juga sudah saya babat,” kata Kalong di makam Mbah Surip di kompleks Bengkel Teater, Cipayung, Citayam, Depok, Jawa Barat, Rabu (5/8/2009) lalu.

Selamat jalan dua sahabat sejati..

Selamat Jalan Willy, Aku Mencintaimu….
Sahabat memberikan kesan-kesan terakhirnya untuk WS Rendra. Termasuk sahabat Si Burung Merak, Jose Rizal Manua. Jose membacakan puisi Rendra dengan lantang.

Aku mendengar suara
Jerit hewan yang terluka
Ada orang memanah rembulan
Ada anak burung terjatuh dari sarang

Orang-orang harus dibangunkan
Kesaksian harus diberikan agar kehidupan tetap terjaga
Selamat Jalan Willy, Aku mencintaimu….

Pantauan detikcom, Jumat (7/8/2009), di Pendopo Bengkel Teater Rendra, Citayam, Depok, Jawa Barat, puluhan pelayat tampak hanyut dalam kesedihan saat Jose membacakan puisi Rendra. Para pelayat juga terlihat menunduk.

Budayawan Emha Ainun Najib sebelumnya juga memberikan sambutan. Bahkan suami penyanyi Novia Kolopaking ini menitikkan air mata.

‘Willy’, Sebuah Kekaguman Iwan Fals pada WS Rendra
Di mata para sahabatnya, WS Rendra adalah sosok yang berwibawa dan disegani. Tak terkecuali bagi penyanyi legenda Iwan Fals. Iwan bahkan pernah menuangkan kekagumannya terhadap Rendra dalam salah satu lagunya bertajuk ‘Willy’.

Lagu tersebut dirilis Iwan Fals pada tahun 1986 dalam album ‘Ethiopia’. Liriknya menggambarkan kekaguman sekaligus kekangenan Iwan Fals pada sosok Rendra yang memiliki kepedulian tinggi terhadap rakyat kecil.

Berikut lirik lengkap lagu berjudul ‘Willy’ tersebut:


Si anjing liar dari Jogjakarta
Apa kabarmu ?
Kurindu gonggongmu
Yang keras hantam cadas

Si kuda binal dari Jogjakarta
Sehatkah dirimu ?
Kurindu ringkikmu
Yang genit memaki onar

Dimana kini kau berada ?
Tetapkah nyaring suaramu ?

Si mata elang dari Jogjakarta
Resahkah kamu ?
Kurindu sorot matamu
Yang tajam belah malam

Di mana runcing kokoh paruhmu ?
Tetapkah angkuhmu hadang keruh ?

Masih sukakah kau mendengar ?
Dengus nafas saudara kita yang terkapar
Masih sukakah kau melihat ?
Butir keringat kaum (orang) kecil yang terjerat
Oleh slogan slogan manis sang hati laknat
Oleh janji-janji muluk tanpa bukti

Di mana kini kau berada ?
Tetapkah nyaring suaramu ?
Di mana runcing kokoh paruhmu ?
Tetapkah angkuhmu hadang keruh ?

Tak heran jika Iwan begitu terpukul dengan kepergian Rendra. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya saat dicegat wartawan usai melayat ke rumah duka di Perumahan Pesona Depok Blok AV No 5, Jumat (7/8/2009) pukul 00.30 WIB. Iwan memilih terus berjalan ke mobilnya dengan wajah menyimpan duka.

Puisi Rendra Inspirasi Nursyahbani Jadi Aktivis Prodemokrasi
Puisi-puisi WS Rendra sanggup membakar semangat Nursyahbani Katjasungkana saat muda dahulu. Puisi-puisi itulah yang menguatkan tekadnya menjadi seorang aktivis prodemokrasi.

Demikian kenangan Nursyahbani Katjasungkana pada sosok penyair WS Rendra di Jakarta, Jumat (7/8/2009).

Nursyahbani tidak segan-segan menganggap Si Burung Merak itu sebagai guru spiritualnya. “Bagi saya, Mas Willy begitu biasanya saya memanggil dia adalah guru spiritual saya saat saya muda,” ujarnya.

Nursyahbani masih ingat puisi-puisi Rendra yang menjadi favoritnya dulu semasa muda. Dia menggemari  romantisnya puisi Rendra  yang terkumpul dalam Sajak Untuk Bonny dan Sajak Sepatu Tua.

“Sajak cintanya kepada Mbak Narti dan sajak Burung Kondornya membuat saya ngefans berat padanya. Sajak Ibunda membuat saya mencintai dan menghormati ibunda saya tiada taranya,” kata aktivis Kaukus Perempuan Parlemen ini.

Nursyahbani mengenal Rendra  pertama kali saat dirinya bekerja di LBH Yogya antara tahun 1980-1982.

“Saya sering bertemu karena dia akrab dengan Buyung Nasution, Abdul Rahman Saleh yang aktif di LBH,” ujar perempuan berkacamata ini mengenang perkenalannya dengan Rendra.

Dan sejak saat itu dirinya selalu berusaha selalu menonton pertunjukan pendiri Bengkel Teater itu di Yogya.

Nursyahbani mengaku menyesal tidak dapat menjenguk Rendra saat menjalani perawatan sakitnya. Dia berdoa agar idolanya itu tenang dalam kepergiannya.

“Semoga arwahnya diterima disisi-Nya dan nama harumnya menghiasi keharuman tanah air kita Indonesia,” kata dia.

Rendra Batal Pentas Seabad Kebangkitan Nasional
WS Rendra berencana menggelar pementasan di sejumlah kota untuk memperingati kemerdekaan RI dan seabad kebangkitan nasional. Mata tombak sepanjang dua meter yang akan dijadikan bagian pergelaran hingga kini masih berada di rumah salah seorang sahabatnya di Solo.

Sugiyatno adalah orang kepercayaan Rendra jika sedang berada di Solo, kampung halaman seniman besar tersebut. Banyak hal disampaiakan Rendra kepada Sugiyatno. Salah satunya adalah ide menggelar pementasan peringatan seabad kebangkitan nasional.

Bahkan kepada Sugiyatno pula, Rendra memesan sebilah tombak yang rencananya akan dikirabkan ke berbagai kota seiring dengan rencana pementasan keliling itu. Kebetulan Sugiyatno memang berprofesi sebagai pedagang barang-barang antik, pusaka tradisional dan penerjemah naskah-naskah kuno.

“Tombaknya dhapur Plered pamor rondhulu. Bilah tombaknya saja sepanjang dua meter. Seusai dikirabkan, tombak itu rencananya akan kami hadiahkan kepada Mas Willy sebagai koleksi pribadi beliau,” ujar Sugiyatno sambil menunjuk tombak yang dimaksud saat ditemui di rumahnya di Solo, Jumat (7/8/2009).

Rencana semula beberapa waktu lalu Sugiyatno akan mengantarkan tombak itu ke Bengkel Teater. Namun rencana itu tertunda seiring kabar memburuknya kesehatan dramawan gaek tersebut. Pengiriman tombak itu dipastikan batal setelah wafatnya Rendra karena dipastikan pementasan keliling juga akan batal.

Ide pementasan itu, menurut Sugiyatno, mengambil momentum HUT kemerdekaan RI dengan spirit seabad kebangkitan nasional. Pemikiran nasionalis dan kecintaan Rendra pada bangsa dan negara mendorongnya untuk terus mengingatkan kebangkitan bersama sebagai yang merdeka.

“Kalau urusannya dengan bangsa, negara, NKRI dan semacamnya. Mas Willy tak pernah kenal lelah untuk terus menggelorakannya. Prinsip menjaga daya hidup benar-benar dipegangnya,” kata Sugiyatno.


detikdotcom

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: